Penelitian Pacaran

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Istilah pacaran memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sudah banyak orang yang mengangkat topik ini untuk dikaji, dibahas, dan diteliti. Namun topik ini selalu menarik untuk diangkat karena melekat dalam kehidupan kita sehari-hari terutama bagi remaja.

Makalah ini disusun atas dasar kondisi psikis penulis sendiri yang sedang mengalami kebimbangan dalam mengambil sebuah keputusan yang nantinya akan menjadi prinsip dan pedoman hidup. Penulis sedang mengalami sebuah masa dimana seseorang itu mencari tahu siapa dirinya dan apa yang semestinya dilakukan dan tidak dilakukan dengan kata lain penulis sedang mencari jati diri. Masalah pacaran merupakan masalah yang kontemporer dikalangan pemuda saat ini. Sebuah tindakan yang wajar sebagai wujud dari perasaan suka kepada lawan jenis namun kebanyakan menjadi ajang pelampiasan nafsu yang berakibat buruk bagi para pelakunya.

Sebagai seorang remaja yang sebentar lagi menginjak usia dewasa tentu sudah pernah merasakan getaran-getaran cinta. Seuatu perasaan suka kepada lawan jenis yang diekspresikan melalui berbagai macam cara. Suatu perasaaan yang bergejolak di dalam hati terhadap seseorang yang menimbulkan rasa ingin memperhatikan dan diperhatikan, rasa ingin tahu lebih, rasa malu, rasa cemburu, rasa curiga dsb semua rasa bercampur menjadi satu kadang suka, kadang sedih, kadang berani, kadang takut untuk melakukan sesuatu hal yang berhubungan denganya. Rasa ini yang bisa mengubah seseorang baik dari segi perspektif, tingkah laku, tutur kata, gaya berbusana dll bergantung pada dengan siapa dan bagaimana orang disekitarnya mempengaruhi untuk berlaku apa yang semestinya dia lakukan menurut pandangan mereka.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi ketiga.2002:807) Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Pacar diartikan sebagai orang yang spesial dalam hati selain orangtua, keluarga dan sahabat kita. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, seringkali makna pacaran disalahgunakan sebagai ajang pelampiasan nafsu, ajang pertunjukan rasa gengsi, ajang popularitas, ajang meraup keuntungan pribadi dll. Sedangkan esensial dari pacaran tersebut memudar. Dimana kita saling mengenal satu sama lain, saling mengerti dan dimengerti, saling cinta dan saling setia.

Penulis hanya meneliti Mahasiswa Islam Sosiologi karena peneliti sendiri seorang muslim. Dalam Islam sudah diatur bagaimana cara bergaul dan berhubungan dengan lawan jenis. Maka dari itu penulis ingin mengetahui apakah Mahasiswa Islam Sosiologi menggunakan aturan tersebut ataupun tidak.

Dengan demikian penulis perlu mengambil tema pacaran untuk mengetahui sejauh mana Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS memaknai istilah pacaran. Apakah mereka setuju dengan pacaran ataupun tidak dengan alasan masing-masing yang melatarbelakanginya.

  1. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini permasalahan penulis batasi yakni Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS angkatan 2007, 2008, 2009 dengan mengambil sampel tiap angkatan 4 orang (masing-masing 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan).

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang masalah di atas maka dapat dikembangkan permasalahan pokok yang diteliti dalam makalah ini yaitu:

  1. Sejak kapan dan dari mana Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS mengenal istilah pacaran?
  2. Apa definisi pacaran menurut mereka?
  3. Bagaimana perbandingan antara yang setuju dengan yang tidak setuju dengan pacaran?
  4. Bagaimana cara mereka berpacaran dan apa yang dilakukan mereka saat pacaran?
  5. Apa latar belakang mereka berpacaran?
  6. Apa hal positif dan negatif yang mereka rasakan saat berpacaran?
  7. Apa alasan bagi Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS yang tidak setuju dengan dengan pacaran?
  1. Metode Penelitian

Penulis menggunakan metode kualitatif berupa penelitian survai yaitu dengan menyodorkan daftar pertanyaan baku (Questionnaire) kepada masing-masing responden yang disertai dengan wawancara. Sedangkan tipologi pengamatan yang dipakai menggunakan complete participant-as-observer yaitu subyek yang diteliti mengetahui ada sebuah penelitian mengenai dirinya.

  1. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
              1. Mengetahui kapan dan dari mana Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS mengenal istilah pacaran.
              2. Mengetahui definisi pacaran menurut mereka.
              3. Mengetahui perbandingan antara yang setuju dengan yang tidak setuju dengan pacaran.
              4. Mengetahui cara mereka berpacaran dan apa yang dilakukan mereka saat pacaran.
              5. Mengetahui latar belakang mereka berpacaran.
              6. Mengetahui hal positif dan negatif yang mereka rasakan saat berpacaran.
              7. Mengetahui alasan bagi Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS yang tidak setuju dengan dengan pacaran.
    1. Tujuan bagi penulis
          1. Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman penulis tentang penelitian.
          2. Makalah ini dijadikan tolak ukur kemampuan penulis dalam menyusun makalah selanjutnya yang memerlukan perbaikan di semua unsur-unsurnya.
    1. Tujuan bagi pembaca
          1. Semoga dengan disusunya makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca seputar pacaran di kalangan mahasiswa khususnya Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS.
          2. Semoga makalah ini dapat dijadikan tolak ukur perilaku mahasiswa dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
  1. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini manfaat yang penulis peroleh diantaranya :

  • Media pembelajaran dalam Metodologi Penelitian.
  • Melatih dan membiasakan menulis, menyusun kata dan menenggunakan istilah yang baik dan benar.
  • Melatih berkomunikasi dan bersosialisasi lewat media wawancara.
  • Memperluas jaringan melalui responden yang kita kenal.
  • Memperluas pengetahuan penulis tentang berbagai hal mengenai pacaran dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

BAB II

LANDASAN TEORI

  1. Definisi Pacaran

Definisi yang dibakukan di buku KBBI, kamus resmi bahasa. Buku PIA mengungkap: “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.” (PIA: 19) “Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.” (PIA: 20)

Jika definisi-definisi baku tersebut kita satukan, maka rumusannya bisa terbaca dengan sangat jelas sebagai berikut: Pacaran adalah bercintaan atau berkasih-kasihan (antara lain dengan saling bertemu di suatu tempat pada waktu yang telah ditetapkan bersama) dengan kekasih atau teman lain-jenis yang tetap (yang hubungannya berdasarkan cinta-kasih). Singkatnya, pacaran adalah bercintaan dengan kekasih-tetap.

Dengan demikian, pacaran yang aktivitasnya “lebih dari” bercintaan, misalnya ditambahi aktivitas baku-syahwat, itu pun masih dapat disebut ‘pacaran’ Sedangkan, pada dua orang yang baru saling mengungkapkan cinta telah ada aktivitas bercintaan, tetapi belum ada hubungan yang ‘tetap’, sehingga belum tergolong pacaran.

Hubungan yang ‘tetap’ itu dapat tercipta dengan ikatan janji atau komitmen untuk menjalin kebersamaan berdasarkan cinta-kasih. Kebersamaan yang disepakati itu bisa berujud apa saja. Dengan demikian, yang tidak diniatkan untuk nikah masih bisa dinyatakan pacaran. Bahkan, ‘hidup bersama tanpa nikah’ pun bisa disebut ‘pacaran’.

KBBI sebagai sarana awal untuk membantu kita memahami sebuah istilah indonesia, tentu adalah suatu usaha yang baik. Tetapi ketika kita ingin berbicara lebih jauh mengenai istilah itu, maka kembalikanlah definisi istilah itu kepada para ahlinya. Sebagaimana yang juga sering digembar-gemborkan oleh SPPI untuk “merujuk kepada ahlinya”. Jika istilah2 itu digunakan untuk mewakili sebuah fenomena alam, maka para ahli ilmu alam lah rujukannnya. Jika istilah2 yang dimaksud adalah untuk mewakili sebuah fenomena sosial/fenomena kejiwaan, maka para ahli sosiologi atau psikologi yang bisa menjawabnya. Dan jika ada kata2 dalam definisi tersebut yang mesti diperjelas, maka wajib untuk dijelaskan. Misalkan pada “bercintaan” yang seperti apakah yang mungkin halal, dan pada “kekasih tetap” yang bagaimanakah yang disebut halal. Karena didalam Islam jelas, perkara “bercintaan” dan “kekasih tetap” yang dihukumi “halal” itu hanya terjadi, jika telah diawali dengan sebuah proses yang disebut dengan “Pernikahan”.

Jadi, kita tidak hendak menyalahkan “arti” yang telah dijelaskan oleh KBBI dalam hal ini, tetapi justru, dengan merujuk kepada ahlinya bertujuan untuk memperkuat maksud, dan memperjelas duduk perkara yang tercantum didalam KBBI. Dan siapapun yang mencari kebenaran, tentu tidak perlu takut terhadap proses (mengembalikan pengertian kepada para ahli) ini, apalagi bagi seorang SPPI yang “katanya” siap dengan kritikan dsbnya.

Kembali ke.. topik, istilah “pacaran” itu sendiri menurut para ahli mungkin dalam pembahasaannya ada sedikit perbedaan. Tetapi tidak dalam konteks dan realita. Karena setidaknya ada tiga hal yang pasti, bahwa pacaran itu ‘mensyaratkan’ adanya “cinta”, “keintiman” dan “pengakuan masing2 lawan jenis itu sebagai pacar”. Mungkin pada “kadar” cinta dan keintiman, masing2 orang boleh jadi berbeda, tetapi masalah “pengakuan masing2 lawan jenis itu sebagai pacar” adalah perkara mutlak yang tidak terbantahkan lagi sebagai prasyarat suatu hubungan disebut “pacaran”. Hal ini sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk dipahami. Bahkan jika kita mau jujur, bertanya kepada mereka yang “aktifis” pacaran, sebelum ada kejelasan “status sebagai pacar” maka hubungan yang terjalin antara 2 insan lain jenis itu belum diakui sebagai “Pacaran. Mungkin ada yang menyebutnya “TTM” atau “HTS” atau “sahabatan”, tetapi tidak “berpacaran”. Terhadap “catatan” yang dibuat oleh SPPI atas definisi yang menjadi rujukan kami, kami pun mencatat beberapa beberapa hal atas “catatan” SPPI tersebut. Terhadap poin

“1) Gerhana matahari merupakan fenomena alam; pacaran merupakan fenomena sosial. Kedua fenomena ini memiliki sifat yang sangat berbeda, sehingga tidak bisa dianalogikan.”

1. Tidak ada yang hendak menyamakan “gerhana matahari” dan “pacaran”. Bahwa kedua hal ini memiliki kesamaan, itu fakta. Kesamaan itu terletak pada fakta bahwa kedua hal ini mewakili sebuah “fenomena”, hal inilah yang mesti kita pahami terlebih dahulu. Dan untuk mengetahui “fenomena” apa yang terjadi pada “gerhana matahari” atau “pacaran”, maka kita kembalikan kepada definisi yang dibuat oleh para ahli, agar kemudian asumsi-asumsi subjektif bisa kita hindari. Jika fenomena itu adalah fenomena alam maka rujukannya kepada ahli alam (fisikawan, ahli astronomi dsbnya). Dan jika fenomena itu adalah fenomena kejiwaan, atau masyarakat, tentu lebih tepat jika kita merujuknya ke ahli psikologi, atau ahli astronomi, dan seterusnya. Sehingga statement SPPI diatas tidak bisa kita terima.

“2) Berbeda dengan ilmu eksakta, setiap pakar ilmu non-eksakta (psikologi, sosiologi, dsb) memiliki definisi sendiri-sendiri mengenai istilah kunci yang dikemukakan di karya tulis masing-masing. Definisi sang pakar itu berlaku pada karya tulis yang menyebutkan definisi tersebut, tetapi TIDAK berlaku untuk karya tulis lain, apalagi yang ditulis oleh pakar lain.”

2. SPPI hendak mengajak kita kepada sebuah kondisi yang “relative”. Tetapi ketahuilah sebuah istilah ilmiah tentu bisa diuji keilmiahannya. Apakah sesuai dengan kenyataan, gejala-gejala, dan fakta dilapangan (fenomena) Jika iya, maka definisi tersebut bisa diterima, jika tidak, maka definisi tersebut tidak boleh kita terima. Dalam konteks “pacaran” juga seperti itu, jika anda berasumsi bahwa ada definisi lain dari ahli psikologi yang berbeda dari yang diungkapkan oleh Reiss, kita lihat dimana perbedaannya, dan kita ukur manakah diantara kedua definisi itu yang mendekati kebenaran (lebih kuat). Jadi, asumsi juga harus menyertakan bukti. Jika tidak bisa menyertakan bukti, asumsi tersebut tidak lebih sebagai dugaan yang lemah, dan tertolak.

“3) Fenomena pacaran yang hendak kita islamisasikan ini berfokus pada Indonesia. Mengapa SPIP ikut-ikutan artikel kompas, merujuk ke buku karya orang Barat? Mengapa tidak merujuk ke definisi baku (standar) yang disusun oleh para pakar dari Indonesia? Apakah SPIP belum tahu bahwa penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) itu tidak hanya melibatkan ahli bahasa, tetapi juga melibatkan para pakar di bidangnya (termasuk sosiologi dan psikologi)?”

3 Mengenai tim penyusun KBBI, ketahuilah bahwa tim tersebut hanya terdiri dari ahli bahasa saja. Jika diperlukan untuk merujuk kepada ahli tertentu, maka dilakukan secara terpisah, semacam konsultan. Adapun kamus yang menghimpun para ahli dibidangnya, seperti ahli fisika, biologi, kedokteran, dsbnya, maka kamus seperti ini diistilahkan “Kamus Istilah”, sebagai rujukan untuk istilah-istilah ilmiah.

“4) Tingkat “keintiman” pada pacaran antara budaya Barat dan Timur (termasuk Indonesia) berbeda. Batas keakraban hubungan pacaran pada budaya Timur lebih ketat.”

4. Lebih “ketat”?? Seperti apakah yang dimaksud dengan “ketat” disini?? Satu yang pasti, Barat sudah terbiasa dengan fenomena hubungan lawan jenis pranikah semacam pacaran. Apakah barat juga memaklumi “pacaran” itu pada awalnya?? Saya pikir tidak. Karena banyaknya (orang yang dianggap sebagai) pemuka agama pada waktu itu mencari-cari pembenaran terhadap hal ini, maka yang terjadi, “pacaran” ada dimana-mana, beserta masalah sosial lain yang ditimbulkannya. Apakah ada pemuka agama diBarat yang tidak setuju dengan pacaran??, insyaAllah masih banyak, terutama dari kalangan Islam. Jangan juga diartikan bahwa “tidak setuju” disini adalah pasti dengan cara2 yang keras dan jauh dari sikap lemah lembut. Tetapi cara-cara yang lemah lembut itu jangan sampai jatuh kepada perbuatan mencari-cari pembenaran demi pembenaran.

Bagi mereka yang hidup lebih dahulu dibandingkan dengan remaja-remaja sekarang tentu mengakui bahwa gaya pacaran masa lalu lebih “sopan” dibandingkan dengan gaya masa sekarang. Itu semata-mata karena informasi tentang ‘pacaran’ itu belum terlalu banyak, hal tersebut dicontohkan oleh mereka yang berasal dari kota besar, atau melalui film-film bioskop (contoh film-film yg dibintangi Roy Mar***), selebihnya (bagi yang tinggal dikampung) nilai-nilai agama masih ‘agak’ mewarnai’. Sedangkan diera informasi seperti ini, tidak sulit menemukan ‘keintiman’ dibarat itu seperti apa. Bahkan film-film dan sinetron-sinetron indonesia pun melakukan copy paste dari produk barat untuk mengkampanyekan ‘keintiman’ yang sama. Sehingga tidak benar jika dikatakan ada yang berbeda dengan “keintiman” ditimur dan dibarat. Justru yang menjadi titik perbedaannya adalah, ketika “keintiman” itu dipahami tidak dengan kerangka syariat, maka hal seperti itulah yang akan menjadi petaka.

“5) Perilaku “saling mengakui pasangan sebagai pacar”, yang oleh SPIP diklaim sebagai yang terpenting, TIDAK mutlak berlaku pada fenomena budaya Timur walau sesuai dengan budaya Barat. Pada budaya Timur, ekspresi cinta lebih bersifat simbolis daripada terang-terangan.”

5. Apakah SPPI.. sebelum menulis tentang “pacaran ala beliau” itu juga menjelaskan perbedaan antara fenomena budaya Timur dan fenomena budaya Barat?? Tidak pernah. Jika dikatakan ‘Pada budaya Timur, ekspresi cinta lebih bersifat simbolis daripada terang-terangan’, seharusnya dijelaskan kenapa bisa berbeda?? Secara umum, manusianya sama, dari sumber yang sama, hasratnya juga sama, keinginannya juga sama, dsbnya juga sama baik yang dibarat dan ditimur. Timur dan Barat tidak menjadi sebab bahwa “watak” dan “budaya” orang-orang Timur itu berbeda dengan orang Barat. Orang Barat banyak yang tidak tahu malu, orang Timur juga banyak. Orang Barat banyak yang terbuka, orang Timur juga banyak. Jadi nilai kebenaran haruslah universal, berlaku di Barat dan di Timur. Pada konteks dunia “Pacaran”, apa yang terjadi di Barat sesungguhnya juga terjadi di Timur.

Apakah kemudian para ulama dibarat membolehkan pacaran?? Tidak. Kemudian jika melihat ke timur, katakanlah Indonesia, SPPI menduga “pacaran” itu tidak mutlak mengakui pasangan sebagai pacar, apakah dugaan ini ada buktinya?? Siapa yang berkata dan dimana kita bisa merujuknya?? Tidak ada buktinya kan. Justru faktanya adalah “Pacaran” itu harus mensyaratkan “kedua insan lain jenis” itu untuk saling mengakui sebagai pacar. Karena ngga mungkin ada yang pacaran, rela..jika pacarnya dipacari oleh orang lain??

Jadi, catatan SPPI itu sendiri penuh dengan “catatan”. Ketidakmampuan SPPI untuk memberikan bukti yang meyakinkan atas dugaan2nya tersebut, seringkali menjadikan yang bersangkutan memperlebar dan mengaburkan masalah yang sebenarnya. Sesuatu yang seharusnya dapat secara mudah kita pahami, menjadi sesuatu yang “rumit” dan kabur. Mungkin ketika orang sudah bingung dengan apa yang dibicarakan, baru kemudian diganti dengan apa yang hendak SPPI inginkan. Sehingga tidak perlulah terlalu jauh berbicara tentang “islamisasi pacaran”, jika “pacaran” itu sendiri belum dipahami dengan sebagaimana mestinya.

  1. Pengertian Mahasiswa

Mahasiswa adalah seseorang yang menempuh pendidikan di suatu perguruan tinggi selepas lulus SMA/Aliyah/sederajat.

    1. Mahasiswa Islam

Mahasiswa Islam adalah seorang muslim (orang yang beragama islam) yang menempuh pendidikan akademik selepas SMA/Aliyah/sederajat di berbagai Universitas.

    1. Mahasiswa Sosiologi

Mahasiswa sosiologi adalah seseorang yang menempuh pendidikan akademik di suatu universitas yang mengambil jurusan sosiologi sebagai bidang yang nantinya menjadi dasar keilmuanya.

    1. Mahasiswa FISIP

Mahasiswa FISIP adalah seorang mahasiswa yang mengambil fakultas ilmu sosial dan ilmu politik sebagai dasar keilmuanya di suatu Universitas. FISIP biasanya terdiri dari beberapa jurusan misalnya komunikasi, administrasi negara dan sosiologi.

  1. Universitas Sebelas Maret

Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, biasa disingkat sebagai UNS, adalah universitas negeri yang berada di Kota Surakarta. Universitas yang giat membangun ini, menyediakan berbagai paket pendidikan diploma, sarjana, dan pascasarjana. UNS terdiri dari 9 Fakultas yakni: Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran,Fakultas Hokum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika Dan Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Social Dan Ilmu Politik Dan Fakultas Sastra Dan Seni Rupa.

BAB III

PEMBAHASAN

  1. Sejak Kapan dan dari Mana Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS Mengenal Istilah Pacaran

Dari 12 responden sebagian besar mengenal istilah pacaran sejak SD/MI selebihnya mengenal istilah tersebut dari TK dan SMP

Dari 12 responden sebagian besar mengenal istilah pacaran dari teman selebihnya dari televisi dan lingkungan ada pula yang mengaku dari keduanya teman dan televisi.

  1. Definisi Pacaran Menurut Mereka

Pacaran adalah…..

  • Masa mengenal pasangan kita namun yang terjadi sekarang adalah ajang pelampiasan nafsu.
  • Suatu jalinan hubungan antara dua individu (laki-laki & perempuan) yang saling suka dan memiliki perasaan sama.
  • Taaruf, proses pengenalan antar lawan jenis yang dianggap spesial.
  • Rasa kasih saying dimana masing-masing pasangan tidak merasa dirugikan tidak ada pengorbanan tapi sebuah pengertian.
  • Suatu tahap pengenalan sebelum tahap pernikahan.
  • Hubungan antar lawan jenis yang belum ada ikatan apa-apa namun masing-masing merasa saling dekat dan nyaman.
  • Mengenal lebih dalam kepada seseorang dan mengaplikasikan rasa saying kepadanya untuk mengenalnya lebih jauh lagi serta untuk mencari orang yang tepat
  • Hubungan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan yang saling menyayangi .
  • Kegiatan yang mengasyikan.
  • Suatu bentuk hubungan antara lawan jenis untuk saling mengenal dan mendalami karakter masing-masing. Dalam hubungan tersebut harus ada saling percaya, jujur, memahami, dan bertanggungjawab.
  • Laki-laki dan perempuan yang mengikat komitmen untuk membina .hubungan khusus berdasar pada cinta, dan hubungan ini landasan mereka untuk menikah.
  • Suatu yang bisa membuat semangat belajar, tempat curhat dan saling berbagi.
  1. Perbandingan antara yang setuju dengan yang tidak setuju dengan pacaran

Kebanyakan dari mereka setuju dengan pacaran hanya 1 responden yang tidak setuju dengan pacaran. Selebihnya ragu-ragu dalam menentukan sikap antara setuju dan tidak setuju.

Tabel 1

Alasan setuju Alasan tidak setuju
    • Jika pacaran bisa di bawa kearah yang positif.

– Sebagai Penyemangat.

    • Asal masih wajar tidak menyimpang dan terjebak pergaulan bebas.
    • Jalan untuk belajar tanggungjawab dengan waktu dan pasangan.
    • Untuk hal yang positif, misal sekolah, agar bisa semangat belajar
– pacaran bisa dilakukan setelah menikah (karena sudah halal, boleh melakukan apa saja). Dan pacaran merupakan peluang ke arah zina.
  1. Cara berpacaran mereka dan apa saja yang dilakukan mereka saat pacaran

Grafik dari 12 responden yang pernah dan belum pernah berpacaran

Dari data tersebut hanya 2 orang yang belum pernah pacaran. Mereka yang mengaku pernah pacaran rata-rata melakukanya lebih dari satu kali hanya 2 orang yang baru pernah pacaran sekali. Rata-rata dari mereka berpacaran 3 kali namun ada juga yang sampai 13 dan 14 kali berpacaran.

Alasan mengapa mereka

tidak berpacaran, hanya sekali pacaran dan lebih dari sekali berpacaran.

Tabel 2

Tidak berpacaran Hanya sekali Lebih dari sekali
    • Konsen belajar
    • Pacaran dianggap mendekati zina
    • karena pacaran itu urusan hati jadi tidak mudah mencari pacar
    • karena keyakinan untuk dapat saling menjaga komitmen dan karena yakin dengan pasangan
    • – karena prestise, cantik
    • mencari sosok pacar yang sesuai dengan kriteria
    • Mencari yang tepat
    • Ingin mendapatkan seseorang yang sesuai dengan karakter dan sifat yang dicari
    • Karena cinta monyet, senang ada yang memperhatikan dan suka mencari perhatian

Alasan bagi mereka yang bertahan lama berpacaran

  • Cocok, sejalan, sepikiran
  • Komitmen
  • Orangnya enak, suka kepada dia dan merasa cocok
  • Karena kecocokan, bisa saling suport, ada toleransi dan berusaha setia
  • Saling pengertian kepada pasangan
  • Cocok, saling percaya dan orang tua setuju dengan pasangan kita
  • Karena kebaikan dan perhatian
  • Karena ada kepercayaan satu sama lain
  • Rasa kasih sayang

Ada tidaknya batasan / aturan dalam berpacaran mereka

Serta alasan masing-masing yang menyatakan ada/tidak ada batasan

Tabel 3

Ada Tidak ada
    • Saling menjaga sikap, tidak boleh pacaran ekstrim (berhubungan sex sebelum nikah)
    • Sebatas ciuman
    • Tidak suka kata-kata romantis
    • Asal tidak melanggar aturan/norma yang berlaku
    • Namun jika ada suatu hal yang tidak mendukung dalam berpacarn maka batas pun harus harus ditentukan
    • Komitmen, selama tidak mengganggu dunianya, sebatas saling mengerti dan memahami

Saat mereka pacaran sebagian besar orang disekitar tahu bahwa mereka pacaran hal tersebut sesuai dengan data observasi ada 7 responden yang menyatakan orang-orang disekitarnya mengetahui mereka pacaran, ada 1 orang yang tidak tahu dan 2 lainya hanya tahu sebagian.

Dilihat dari orangtua. Ada 9 orangtua yang setuju anaknya berpacaran alasan mereka menyetujui adalah asalkan berpacaran sehat, ada batasan, tidak mengganggu sekolah, bisa jaga diri dan bertanggunggjawab. Sedangkan orangtua yang tidak menyetujui beralasan belum waktunya berpacaran dan ada waktu yang lebih tepat dari pada sekarang.

Hal yang dilakukan saat mereka berpacaran

  • Makan bareng, dijemput, diantar, melakukan apasaja berdua dan berpegangan tangan.
  • Sharing, berusaha menjadi teman curhat.
  • Sharing tentang kerjaan, kuliah, dan teman, ngobrol sambil bercanda, keluar mencari makan dan nonton bareng.
  • Ngobrol dan ciuman
  • Saling motivasi, ngobrol bareng dan curhat
  • Makan bareng, sms-an, telepon, datang ke rumah, mengajarkan kuliah, sharing dan belanja
  • Ngobrol bareng, makan-makan, ketemuan
  • Makan bareng, nonton
  • Sharing, ngobrol, saling mengisi hari-hari dan main bareng
  1. Latar Belakang Mereka Pacaran
    • Ingin diperhatikan dan memperhatikan
    • Senang-senang
    • Kebutuhan, mensuport, lebih kepada naluri
    • Kebutuhan memotivasi diri
    • Cari orang yang tepat
    • Mencari pengalaman untuk jalan menuju ke tahap pernikahan, mengenal karakteristrik laki-laki yang berbeda
    • Tidak ada satupun yang melatarbelakangi perasaan cinta
    • Berpilkirlah ke depan, serius menjalani hubungan dan belajar dewasa
  1. Hal positif dan negatif yang mereka rasakan saat pacaran

Tabel 4

Positif Negatif
    • motivasi
    • belajar dewasa dalam menjalani hidup
    • adanya suport berusaha untuk bisa saling tolerasi dan sabar
    • bisa sharing dan senang-senang
    • mendapat teman curhat
    • menghilangkan stress
    • belajar tanggungjawab dan mengatur waktu
    • semangat sekolah
    • belajar mengerti orang lain
    • adanya semangat dan dorongan untuk berorientasi ke depan
    • selalu positif thingking
    • jika ada masalah dengan pasangan bisa down
    • melanggar agama
    • buang-buang waktu
    • menambah pikiran
    • tidak bebas
    • pemborosan
    • membuat tidak produktif
    • maksiat
    • mencuri uang orang tua
    • mendekati zina
  1. Alasan bagi Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS yang tidak setuju dengan pacaran

Ada beberapa alasan bagi mahasiswa yang tidak atau belum berpacaran hingga saat ini. Diantaranya mereka beranggapan bahwa pacaran mengganggu belajar dan tidak fokus kuliah yang lain beranggapan karena sebagai muslim kita tahu bahwa mendekati zina itu tidak boleh dan baginya pacaran adalah salah sau pintu untuk mendekati zina. Selain larangan agama ada larangan lain yang berasal dari diri sendiri yakni berupa prinsip yang menyatakan bahwa pacaran ada waktunya sendiri dan untuk saat ini hanya difokuskan untuk belajar saja. Untuk proses pacaran dalam pengenalan lawan jenis (orang yang dianggap spesial) bagi mahasiswa yang tidak setuju dengan pacaran itu sendiri ada yang menyatakan perlu ada pula yang tidak. Mahasiswa yang menyatakan perlu beralasan proses tersebut penting untuk pengenalan pasangan kita sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius agar kita tidak menyesal di kemudian hari karena tidak mengenal pasangan kita sebelumnya. Mahasiswa yang menyatakan tidak perlu ada proses pacaran beralasan bahwa ada proses lain yakni taaruf, walau dianggap jadul itu lebih baik karena orang yang memulai dengan pacaran tidak jaminan bakal langgeng.

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Simpulan yang dapat di ambil penulis disini yakni sebagian besar Mahasiswa Islam Sosiologi FISIP UNS setuju dengan pacaran. Dilihat dari 12 responden, yang tidak setuju dengan pacaran hanya 2 orang. Pacaran yang mereka lakukan sebagian besar bertujuan positif, diantaranya untuk motivasi belajar, untuk pengenalan sifat dan karakter orang, untuk dapat saling mengerti dan memahami serta untuk menjadikan lebih dewasa dalam bersikap dan bertingkah laku. Sedangkan bagi mereka yang tidak setuju dengan pacaran beralasan bahwa pacaran merupakan pintu menuju maksiat, pelampiasan nafsu belaka, buang-buang waktu dan tidak fokus kuliah. Salah satu diantara mereka berargumen bahwa dalam islam mempunyai cara tersendiri dalam pengenalan dengan lawan jenis (orang yang spesial) yakni dengan jalan taaruf, walaupun dianggap jadul namun dianggap lebih baik karena tidak jaminan orang yang mengawali suatu hubungan dengan pacaran bakal langgeng.

  1. Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah pengetahuan baru tentang pacaran di kalangan Mahasiswa Islam FISIP UNS serta pembaca dan penulis khususnya dapat mengambil pelajaran dari makalah ini. Saran dari pembaca juga diperlukan untuk perbaikan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

pacaranislamikenapa.wordpress.com
http://www.marifassalman.multiply.com

2 responses to “Penelitian Pacaran

  1. keren penelitiannya, tapi mungkin lebih ditambah lagi bahan analisanya mba, untuk pengertian pacarannya, jadi biar ngga terkotaki sama pengertian di KBBI.
    saya ingin menjadikan ini sebagai bahan tulisan saya, apakah boleh??

  2. Bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s